Tampilkan postingan dengan label album rock. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label album rock. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2016

10 Album Pop & Rock Terbaik era 2000-an

Tahun 2000-an masih ada band rock yang bertahan ??? Yap, itu beberapa hal yang saya pikirkan sebelumnya. Karena tidak sedikit band yang sukses di era-nya mampu bertahan di era millenium baru ini. Hal ini logis, karena di era 2000-an sudah banyak artis-artis bergenre Pop, R&B, Rap, dll yang mulai bertebaran di dunia bisnis musik. Namun tak sedikit pula bahwa band yang sukses di era-nya masih mampu bertahan dan membuktikan bahwa musik mereka tidak pernah dimakan oleh zaman.

Dan inilah 10 album Pop & Rock terbaik di era 2000-an:

10. MUSE - Origin of Symmetry (2001)
 

Album ini sendiri adalah album kedua MUSE yang dirilis. Sebelumnya, MUSE pernah merilis album pertama berjudul Showbiz, namun tak begitu sukses. Dan album inilah menjadi titik balik MUSE mulai dikenal banyak orang. Meski hanya bermodal 3 orang saja, namun suara yang mereka hasilkan cenderung enerjik dan terkesan multi-genre. Dan dua hal itulah yang menjadi resep MUSE bisa tampil beda dibandingkan band Rock di zamannya.

9. MUSE - Absolution (2003)

Setelah sukses dengan album keduanya, MUSE kembali lagi dengan album ketiganya yang tak kalah lebih hebat lagi. Namun konsep di album ini berbeda cukup signifikan dibanding album MUSE sebelumnya. Di album ini, mereka lebih mencoba mengangkat tema biblical, namun tetap dikemas dengan musik mereka yang lagi-lagi enerjik dan terkesan multi-genre. Dan berkat album ini, MUSE jadi semakin dikenal lagi dibeberapa benua, semisal Eropa, Amerika, dan Asia.

8. Weezer - Green Album (2001)

Album ini saya rasa adalah album terbaik mereka, setelah Pinkerton dan Make Believe. Album ini merupakan comeback mereka setelah vakum selama 5 tahun, dan hasilnya album ini mampu dikemas secara luar biasa, enerjik, dan dengan suara vokal yang lebih renyah ketimbang Blue Album dan Pinkerton, membuat album ini menjadi salah satu album favorit dari Weezer sepanjang karier mereka.

7. Blur - Think Tank (2003)

Ini adalah salah satu album favorit dari Blur. Meski lagi-lagi, bagi sebagian orang pilihan saya cukup kontroversial, mengingat album ini bagi sebagian besar orang tidak begitu bagus. Namun jarang sekali Blur bisa bereksplorasi seperti yang ada di album ini. Karena bisa memadukan unsur Electronic dengan Rock. Tapi di satu sisi, album ini adalah awal keruntuhan Blur sepanjang karier mereka, bahkan album ini adalah album terakhir Blur sebelum akhirnya memutuskan bubar, namun kemudian bangkit lagi di tahun 2008.

6. Limp Bizkit - Chocolate Starfish and the Hot Dog Flavored Water (2000)

Album ini adalah album kesuksesan besar yang pernah dicetak Limp Bizkit sepanjang karier mereka. 3 awal album Limp Bizkit menurut saya adalah orisinal nya Limp Bizkit. Dan puncak kesuksesannya ada di album ini. Karena hampir semua lagu mereka di album ini mampu dikemas dengan sangat baik, meski banyak di antara lagu mereka di album ini cukup kontroversial. Faktanya bahwa hampir 80% hits tersukses mereka berhasil dicetak lewat album ini, dan salah satu lagu mereka "Take a Look Around" dipilih menjadi soundtrack film "Mission Impossible" seri kedua.

5. Keane - Hopes and Fears (2004)

Kenapa saya memilih album ini ? Bagi saya jarang sebuah band Rock mampu berhasil menciptakan suara yang hebat tanpa memerlukan instrument Guitar. Dan Keane mampu membuktikan bahwa mereka bisa melakukan hal itu. Hanya bermodal suara dari Keyboard dan sebagai gantinya instrument Guitar yang di tanggalkannya, mereka memutuskan mengganti suara Guitar dengan memasukkan sample hampir di seluruh lagu mereka di album ini. Dan ciri khas itulah yang terus mereka bawa sepanjang karier mereka hingga saat ini.

4. Keane - Under the Iron Sea (2006)

Kesuksesan mereka di album Hopes and Fears membuat Keane semakin tertantang untuk membuat album terbaru. Dan di album ini, Keane berhasil bereksplorasi lebih jauh lagi, yaitu dengan suara dari Keyboard yang lebih berat dan lebih terasa seperti nge-Rock. Keberhasilan dari musik mereka pun juga terbawa hingga kesuksesan album ini secara komersil dan berkat album ini pula, Keane bisa dikenal hampir diseluruh dunia.

3. Coldplay - A Rush of Blood to the Head (2002)

Berkat album ini, saya mulai suka dengan Coldplay. Di album ini, Coldplay berhasil mengemas sebuah album yang menarik dan sangat enak untuk di dengar. Dan faktanya, 80% hits tersukses mereka berhasil dicetak lewat album ini. Dan tak perlu saya panjang lebar menjelaskan album ini, penjualannya pun sukses besar dan album ini adalah album Coldplay dengan penjualan tersukses sepanjang karier mereka.

2. Radiohead - Kid A (2000)

Album ini adalah album yang sempat menggemparkan dunia musik di era-nya. Betapa menggemparkannya, karena Radiohead bisa sukses dengan album OK Computer yang dikenal dengan sound Rock yang sangat luar biasa, tiba-tiba saja mereka muncul kembali dengan sentuhan musik yang berbanding balik 180 derajat ketimbang OK Computer yang notabene nya adalah album sebelumnya Kid A. Album ini benar-benar jauh dari kesan Rock & Roll, namun lebih cenderung electronic. Namun hebatnya, Radiohead berhasil mengemas album ini sangat epik dan sama sekali tidak ada hal aneh yang sukar untuk didengar. Dan unsur electronic inilah yang mereka bawa terus hingga kini di album terdepan mereka.

1. Linkin Park - Meteora (2003)

Tak perlu saya jelaskan panjang lebar betapa hebatnya daya tarik dari album ini. Kesuksesan mereka sebenarnya sudah dimulai sejak mereka merilis debut album mereka berjudul Hybrid Theory, yang notabene adalah album sebelum Meteora. Dan album ini sangatlah sukses dengan mencetak angka penjualan terbanyak di seluruh negara, bahkan di Indonesia. Hasilnya, album ini mendapatkan penghargaan bergengsi sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa. Dan daya tarik itu bahkan sampai ke Indonesia, banyak musisi-musisi di Indonesia yang terinspirasi musiknya bisa seperti Linkin Park. Bahkan salah satu band Rap-Rock kondang asal Indonesia, Saint Loco memiliki ciri khas yang hampir mirip seperti Linkin Park, bahkan mendapatkan julukan ''Linkin Park-nya Indonesia''. Dan daya tarik yang luar biasa inilah membuat album ini menjadi salah satu trendsetter baru di era-nya.


Rabu, 26 Oktober 2016

The Tears - Here Come the Tears


Bagi penggemar fans Suede, pasti sudah tahu akan keberadaan band The Tears. Meski cukup aneh, namun history awal kemunculan band ini sangat menarik untuk dilihat hingga akhirnya bisa mengeluarkan album ini.

Sedikit sejarah mengenai band ini. Band ini dibentuk pada tahun 2004, dimana pada saat itu Suede memang memutuskan untuk vakum. Sebelum band ini terbentuk, awalnya Brett Anderson, sang vokalis kemudian meminta kontak telepon Bernard Butler, sang gitaris kepada manager Suede selepas konser Suede yang terakhir. Mereka berdua dahulunya adalah anggota dari grup musik Suede. Namun pada tahun 1994, Bernard Butler memutuskan untuk keluar dari Suede setelah berseteru dengan Anderson pada saat pengerjaan album "Dog Man Star". Dan sejak saat itulah, Anderson dan Butler tak pernah berkomunikasi sama sekali. Berselang 9 tahun, tepatnya pada tahun 2003, Anderson dan Butler akhirnya berbicara lewat telepon untuk membicarakan sesuatu yang baru.

Kemudian akhirnya mulailah nama The Tears muncul, yang namanya diambil dari kata-kata sebuah novel ciptaan Philip Larkin. The Tears beranggotakan Brett Anderson sebagai vokalis, Bernard Butler sebagai gitaris dan backing vokal, kemudian Bernard Butler mengajak 3 anggota lainnya yang merupakan pengiring band untuk Bernard Butler, yaitu Will Foster sebagai kibordis, Nathan Fisher sebagai bassis, dan Makoto Sakamoto sebagai drummer. Pendek kata, The Tears adalah band kolaborasi antara Anderson dan Butler.

Pada saat album ini muncul, pastilah ekspektasi banyak orang begitu tinggi akan album ini, mengingat kolaborasi antara Anderson dan Butler sangat diagungkan oleh fans semasa mereka berdua di Suede. Dan boleh dibilang, album ini bisa menjadi album yang berpotensi untuk The Tears bisa sukses di masa depan. Karena rata-rata album "Here Come the Tears" ini terasa jauh lebih fresh ketimbang Suede yang mencoba lebih menekankan unsur artistik. Dan memang sejak awal, Anderson menegaskan bahwa The Tears tidak mencoba untuk membangkitkan nuansa Suede, baik album ini maupun pada saat mereka live.

Hasilnya album ini sangatlah sukses, dan hampir seluruh fans Suede sangat menerima keberadaan album ini. Namun kesuksesan mereka sangatlah singkat. Pada tahun 2006, The Tears memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi sebagai band yang utuh alias bubar. Salah satunya dikarenakan Brett Anderson memutuskan untuk fokus di solo kariernya yang memang sudah ia rencanakan pada saat tour untuk promosi album ini. Serta Bernard Butler memutuskan untuk mundur dari dunia panggung musik dan ingin fokus di balik layar sebagai produser. Memang sangat disayangkan karena kemunculan album mereka ini boleh dibilang sangat potensial untuk mereka bisa sukses di masa depan. Pada tahun 2007 sempat berhembus kabar bahwa The Tears akan kembali muncul dengan album kedua mereka. Namun sayangnya itu semua hanyalah sebuah isapan jempol karena semua personel membantahnya.

Itulah sedikit sejarah band ini. Saatnya kita membahas albumnya lebih mendalam. "Here Come the Tears" dirilis pada tanggal 6 Juni 2005. Di album ini, The Tears memasukkan 13 buah lagu. Dan hasilnya janji Brett Anderson memang benar, The Tears mencoba untuk keluar dari karakter Suede yang sudah melekat erat pada Anderson dan Butler. Dan album ini boleh dibilang sebagai transformasi mereka untuk bisa tampil berbeda. Album ini di produseri oleh Bernard Butler, sang gitaris.

Dari 13 buah lagu yang dimasukkan, The Tears memilih 2 lagu sebagai hits single mereka untuk album ini. Pertama yaitu "Refugees". Lagu ini boleh dibilang sangat kental dengan nuansa lagu Bernard Butler selama dirinya berkarier sebagai penyanyi solo. Namun The Tears sangat pintar dalam meracik lagu, dimana mereka tidak memasukkan pure 100% nuansa Bernard Butler di lagu ini. Dan lagu ini terdengar sangat fresh, namun tetap mematok unsur bertemakan cinta sebagai liriknya, sama seperti pendahulunya di Suede. Dan single ini pun sangatlah sukses di chart musik Britania Raya, dan berada di urutan Top 10 selama beberapa minggu.

Kemudian, disusul dengan single "Lovers". Lagu ini memiliki nuansa yang sangat timpang jika dibandingkan dengan "Refugees". Nuansa yang coba ditampilkan di album ini lebih dark, namun tidak ada sama sekali unsur Suede di lagu ini. Lagu ini memang memiliki hasil yang tidak sebaik "Refugees", hanya berada di urutan nomor 24 di chart musik Britania Raya.

Dan 11 lagu lainnya, boleh dibilang juga sangat fresh dan tetap ada unsur dark. Namun itu semua membuat The Tears sangat berinovasi dari segi musikalitas dan liriknya di album ini. Namun ada satu hal yang dirasa kurang begitu menyenangkan untuk di dengar. Yaitu suara yang dihasilkannya cenderung seperi musik mentah yang belum dipoles secara sempurna. Seharusnya, sang produser Bernard Butler bisa lebih baik untuk menyajikan sound yang lebih baik untuk di dengar. Namun itu semua benar - benar tertutup dengan nuansa lagunya yang sangat fresh di album ini.


Daftar Lagu:
1. Refugees
2. Autograph
3. Co-Star
4. Imperfection
5. The Ghost of You
6. Two Creatures
7. Lovers
8. Fallen Idol
9. Brave New Century
10. Beautiful Pain
11. The Asylum
12. Apollo 13
13. A Love As Strong As Death

Jumat, 21 Oktober 2016

5 Album Pop & Rock Terbaik 2016

Tahun 2016 memang tahun penuh kejutan. Bukan hanya musisi-musisi baru saja berusaha untuk memberikan yang terbaik ditahun ini, namun musisi-musisi era jadul pun juga tak mau luput dari hingar bingar musisi baru yang mulai bertebaran.

Meskipun 2016 belum berakhir, namun sudah 10 bulan musik dunia dikacaukan oleh banyaknya album yang keluar di tahun 2016 ini. Dari sederet nama - nama yang ada, akhirnya saya pun memilih 5 album terbaik versi saya. Let's get start it !!

5. Richard Ashcroft - These People


Nomor urutan 5 saya isi oleh album terbaru dari mantan vokalis The Verve, Richard Ashcroft. Tahun 2016, Richard mengeluarkan album "These People" sebagai album kelimanya. Setelah melewati masa vakumnya selama 6 tahun sejak album terakhirnya dirilis ditahun 2010, Richard mencoba bangkit kembali dengan image seperti pendahulunya.

Namun bukan Richard Ashcroft namanya yang semakin kedepan tetap "stuck", di album ini Richard mencoba dengan nuansa barunya yaitu electro-pop. Dan sembari tetap membawa image britpop nya sendiri pendahulu, album ini boleh saya bilang sebagai salah satu album terkompleks yang pernah saya dengar.

Namun, bukan berarti album ini sempurna dan bebas dari cela. Tetap sama seperti album-album sebelumnya, Richard Ashcroft tetap tidak mau membangkitkan nuansa The Verve yang memang sudah melekat kuat dan tidak pernah bisa dilepas olehnya. Serta terkadang suara yang dihasilkan cenderung terlalu mellow dan sulit untuk menemukan suasana semangatnya yang lagi-lagi juga melekat di gaya Ashcroft. Maka dari itu, saya menempatkan album ini diposisi nomor 5.

4. Travis - Everything at Once


Nomor urutan 4 saya isi oleh album terbaru Travis. Tahun 2016, Travis meluncurkan album "Everything at Once". Band yang menjadi inspirasi band Coldplay dalam bermusik ini tetap membawa suasana riang dan gembira seperti layaknya album Travis lainnya.

Tapi entah mengapa ada sesuatu yang hilang di album ini. Dan itu sangat sulit untuk saya temukan, namun yang paling mencolok adalah nuansa megah nya yang hilang dan itu terjadi di album kelima mereka "The Boy With No Name" yang mencoba lebih sederhana. Dan oleh karena itu, saya tempatkan album Travis terbaru ini di nomor 4.

3. Tom Chaplin - The Wave


Nomor urutan 3 saya isi oleh album terbaru vokalis Keane, Tom Chaplin. Meski terhitung cukup baru dirilis, namun sebelum dirilisnya album ini, banyak netizen terutama fans Keane yang sudah menunggu album ini, mengingat Tom Chaplin tidak merilis album satupun selama 3 tahun sejak Keane memutuskan untuk vakum di tahun 2013.

Dan dengan hal itu, pastinya ekspektasi fans Keane untuk album ini begitu tinggi. Pada saat album ini muncul, saya berharap ada nuansa Keane yang kental dialbum ini, tapi saya salah. Album ini justru memunculkan nuansa mellow dari denting piano hampir diseluruh lagunya. Meski tak menampik, tetap ada nuansa fun di album ini. Akan tetapi, hampir 90% di album ini bernuansa mellow, namun kalem. Jadi saya menempatkan album yang paling fresh dari semua yang ada di list pada nomor 3.

2. Radiohead - A Moon Shaped Pool


Nomor urutan 2 saya isi oleh album terbaru Radiohead, "A Moon Shaped Pool". Album ini menjadi penantian fans Radiohead yang sudah menunggu selama 5 tahun sejak terakhir meluncurkan album "The King of Limbs" di tahun 2011.

Memang sudah banyak isu bermunculan bahwa Radiohead akan meluncurkan album terbaru tahun-tahun sebelumnya, namun semua personel Radiohead selalu menampiknya. Namun itu hal yang logis, mengingat semua personel Radiohead sibuk dengan "mainan" mereka. Seperti Thom Yorke sibuk dengan band barunya "Atoms for Peace" dan sibuk dengan solo kariernya serta Jonny Greenwood ingin memperdalam musik orchestra dan sang drummer Phil Selway sibuk dengan solo kariernya juga. Jadi wajar saja, Radiohead tak pernah terurus dalam jangka waktu yang lama.

Namun pada akhir bulan April 2016, netizen dikejutkan dengan Radiohead menghapus semua konten yang ada di sosial media mereka, baik Facebook, Twitter, Instagram, dll. Tidak ada yang terpikir bahwa Radiohead akan memunculkan sesuatu, pada tanggal 3 Mei 2016 mereka merilis video klip single terbaru mereka "Burn the Witch" serta single lagunya di situs streaming musik, dan kemudian pada tanggal 6 Mei dengan single mereka "Daydreaming". Serta yang paling mengejutkan adalah pada 8 Mei merupakan rilisnya album terbaru mereka ini.

Hal ini sedikit mengingatkan saya dimana Radiohead pada saat meluncurkan album "Kid A" di tahun 2000, mereka memutuskan untuk tidak mengeluarkan single apapun. Dan inilah memang istimewanya Radiohead dalam meluncurkan karya terbaru mereka. Selalu ada kejutan dan selalu tidak masuk di akal.

Dan hasil dari album ini pun sebanding lamanya waktu menunggu, Sempurna & Artistik. Nuansa hollow dan artistik ala "Kid A-Amnesiac" lebih kental terasa di album ini. Jadi itulah 2 kata yang mencirikan album jenius ini.

1. Suede - Night Thoughts


Dan akhirnya nomor 1 saya isi dengan album terbaru Suede, "Night Thoughts". Tak perlu saya menjelaskan panjang lebar betapa hebatnya album ini. Album ini sangat membaik dari segala sisi, baik permainan musiknya dan cara mereka menggubah lagu di album ini seakan kita langsung merasakannya. Sehingga ini adalah album Suede terbaik yang pernah dibuat.

Album ini hadir dalam 2 versi, yaitu musik dan dalam bentuk film. Filmnya sendiri juga sangat impresif dan memang menyambung satu sama lain dengan lirik yang ada. Dan itulah mengapa, saya menempatkan album ini di urutan pertama.

Itulah 5 album pop & rock yang menurut saya terbaik sejauh ini di tahun 2016. Dan daftar di atas bisa saja berubah, seiring dengan akan adanya lagi album terbaru yang diluncurkan dalam waktu kedepan di tahun 2016 ini.

Sabtu, 11 Juni 2016

Blur - 13

Blur adalah salah satu band pelopor britpop di era 90-an bahkan hingga saat ini. Banyak karya - karya yang sudah dikeluarkan oleh band satu ini dan selalu mengundang perhatian banyak publik di seluruh dunia.

Dari ketujuh album yang pernah dirilis, ada satu album menurut saya adalah album Blur terjenius dan terhebat yang pernah dibuat. 13, adalah albumnya. Dan album ini adalah album keenam dari Blur dan dirilis tahun 1999. Pertama mendengar nama albumnya memang agak terasa tidak begitu menggugah, namun setelah mendengar seluruh isinya ekspetasi saya langsung berubah. Album ini langsung saya jadikan sebagai album terjenius Blur yang pernah dibuat.

Di album ini, Blur masih kembali dengan sifat garangnya yang memang sudah dibawa sejak album kelima mereka, self titled (Blur) yang dirilis pada tahun 1997. Ketika era itu, memang musik britpop sudah mulai melebur seiring banyaknya genre yang tumbuh di dunia musik. Maka dari itu, Blur memiliki tuntutan yang tinggi untuk bisa "move on" dari genre Britpop nya yang sudah kental sejak mereka memulai kariernya dari album Leisure hingga The Great Escape. Alhasil, jadilah album 13.

Kalau boleh beritahu, dalam wawancara mereka di film No Distance Left to Run yang dirilis tahun 2010, Blur bilang bahwa album ini adalah album perpecahan Blur sepanjang karier mereka. Dan itu memang benar. Sejak putusnya Damon Albarn sang vokalis dari Justine Frischmann (vokalis Elastica), Damon memang sering mengalami konflik dengan Graham Coxon sang gitaris, yang membuat mereka terpecah selama proses pembuatan. Akhirnya konflik ini berbuntut panjang hingga akhirnya tahun 2002, Coxon memutuskan keluar karena merasa muak dengan sikap Damon yang arogan. Di album ini, Blur bekerjasama dengan William Orbit sebagai produser untuk menggantikan Stephen Street yang sudah memproduseri kelima album Blur sebelumnya.

Itu sekilas dari pembuatan album ini. Album ini sebenarnya adalah hasil curahan hati dari Damon Albarn yang sudah putus dari Justine Frischmann pada Agustus 1998. 2 lagu dari album ini adalah lagu curahan hati Damon. Yaitu "Tender" dan "No Distance Left to Run" yang akan saya jelaskan lebih rinci lagi setelah ini. Dan kedua lagu diatas merupakan 2 hits single dari album ini.

Album ini dibuka dengan "Tender". Lagu ini menurut saya adalah lagu Blur yang paling melankolis  yang pernah dibuat. Kalau kebanyakan lagu - lagu Blur di album sebelumnya bernuansa ceria, maka lagu ini penuh dengan suasana sedih dan curahan hati Damon Albarn juga benar - benar ngena banget.

Kemudian dilanjutkan dengan "Bugman". Disinilah sisi kejeniusan Blur dipertunjukan. Dengan genre experimental rock yang kuat serta beberapa efek yang aneh - aneh ditambah pula dengan gitar Coxon yang cadas, membuat lagu ini terasa garang dan mungkin bisa jadi ini adalah lagu Blur tergarang yang pernah dibuat.

Album ini dilanjutkan dengan "Coffee and TV", salah satu hits single juga di album ini. Album ini kembali ke jati diri mereka sebagai band britpop. Lagu ini pun memperkenalkan ciri baru Blur yang jadi ciri Blur yang lain adalah kotak susu dengan gambar Coxon di bagian sisi kanan. Video klip ini memiliki makna kegalauan keluarga Coxon karena Coxon tak pulang - pulang. Akhirnya yang mencari Coxon pun adalah kotak susu itu. Sampai pada akhirnya kotak susu ini menemui Coxon meski harus berjuang keras untuk mencarinya. Namun tragis akhirnya Coxon menimum susu dari kotak susu itu dan menjadi malaikat dibagian akhir video klipnya. Video klip lagu ini menjadi salah satu video klip terhits di ajang MTV Awards tahun 1999. Kemudian lagu ini diakhiri pula dengan satu hidden track berdurasi 40 detik.

Album ini berlanjut dengan lagu "Swamp Song". Pada awalnya saya berpikir kalau Blur mengaransemen lagu ini karena judulnya sendiri mirip dengan "Swamp Song" milik Oasis. Ternyata berbeda sama sekali. Lirik serta aransemen musiknya benar - benar jauh berbeda dari pada milik Oasis. Kekuatan experimental rock ala Radiohead pun kental terasa di lagu ini dan didukung dengan efek yang aneh serta cadasnya gitar Coxon.

Kemudian album ini lanjut dengan "1992". Sebenarnya saya agak bingung kenapa lagu ini diberi judul tersebut. Ternyata, setelah saya membaca banyak sumber di internet, ternyata lagu ini adalah lagu demo milik Albarn yang sudah direkam tahun 1992 dan baru ditemukan demo lagu tersebut 6 tahun kemudian. Lagu nya sendiri bernuansa mellow tak seperti "Bugman" dan "Swamp Song" yang cenderung ingin "Keras". Namun tetap lagu ini memiliki efek yang saya kira tidak akan banyak band yang berani melakukan hal ini.

Album ini kemudian dilanjutkan dengan "B.L.U.R.E.M.I.". Sebenarnya saya juga sama bingungnya mengapa lagu tersebut diberi judul seperti ini. Kali saya tidak mendapat sumber mengapa lagu ini diberi judul tersebut. Nuansa punk rock dibawa ke lagu ini dengan cadasnya gitar Coxon yang membuat lagu ini terasa seperti "Berantakan". Sama seperti "Coffee and TV", lagu ini diakhiri dengan hidden track berdurasi 45 detik.

Lagu selanjutnya adalah "Battle". Lagu ini bernuansa mellow namun dengan beat yang saya rasa hampir mendekati dengan beat "Keras". Gitar Coxon yang cadas pun ditambah dengan efek yang aneh - aneh ini membuat lagu ini adalah salah satu lagu yang saya suka dari album ini. Sama dengan "Coffee and TV" dan "B.L.U.R.E.M.I.", lagu ini diakhiri dengan hidden track berdurasi 1 menit 10 detik.

"Mellow Song" adalah lagu selanjutnya dari album ini. Sama seperti judulnya, lagu ini bernuansa mellow. Di lagu ini juga mereka tidak mau terlalu muluk - muluk untuk bisa seperti lagu lainnya.

"Trailerpark" menjadi lagu selanjutnya. Dimulai dengan drum loop, kemudian ketika masuk lagunya, sama seperti "Mellow Song" lagu ini berusaha untuk tidak garang seperti lagu lainnya.


Kemudian album ini berlanjut dengan lagu "Caramel". Nuansa mellow di awal lagu benar - benar kental terasa dengan alunan gitar yang terasa crunchy membuat lagu ini menjadi salah satu lagu masterpiece Blur di album ini. Kemudian masuk ke bagian tengah dari lagu ini akan terasa bahwa anda akan dibawa ke dimensi yang berbeda. Sama seperti "Coffee and TV", "B.L.U.R.E.M.I." dan "Battle", lagu ini diakhiri dengan hidden track. Namun bedanya, hidden track dari lagu ini ada 2 buah.

Kemudian dilanjutkan dengan "Trimm Trabb", diawali dengan keyboard yang kompleks ala Damon, kemudian masuk lagunya terkesan biasa saja seperti aransemen di lagu lainnya, namun ketika masuk dibagian tengah hingga akhir, lagi-lagi kejeniusan Blur keluar. Mereka tetap ingin memberikan hal "Keras" dilagu ini seperti "Bugman", "Swamp Song" dan "B.L.U.R.E.M.I.".

Album ini berlanjut dengan lagu "No Distance Left to Run". Nuansa melankolis kembali ditunjukkan. Liriknya seperti lagu "Tender", menceritakan tentang curahan hati Damon tentang momen putusnya dari "Justine Frischmann". Lagu ini memadukan antara art rock dengan sedikit genre britpop di lagu ini.

Dan album ini diakhiri dengan lagu instrumen yang sudah menjadi kebiasaan mereka sejak album kedua mereka. Lagu "Optigan 1", dimana Damon memainkan keyboard optigan dengan aransemen seperti lagu klasik era 50-an.