Rabu, 30 November 2016

10 Album Pop & Rock Terbaik era 2000-an

Tahun 2000-an masih ada band rock yang bertahan ??? Yap, itu beberapa hal yang saya pikirkan sebelumnya. Karena tidak sedikit band yang sukses di era-nya mampu bertahan di era millenium baru ini. Hal ini logis, karena di era 2000-an sudah banyak artis-artis bergenre Pop, R&B, Rap, dll yang mulai bertebaran di dunia bisnis musik. Namun tak sedikit pula bahwa band yang sukses di era-nya masih mampu bertahan dan membuktikan bahwa musik mereka tidak pernah dimakan oleh zaman.

Dan inilah 10 album Pop & Rock terbaik di era 2000-an:

10. MUSE - Origin of Symmetry (2001)
 

Album ini sendiri adalah album kedua MUSE yang dirilis. Sebelumnya, MUSE pernah merilis album pertama berjudul Showbiz, namun tak begitu sukses. Dan album inilah menjadi titik balik MUSE mulai dikenal banyak orang. Meski hanya bermodal 3 orang saja, namun suara yang mereka hasilkan cenderung enerjik dan terkesan multi-genre. Dan dua hal itulah yang menjadi resep MUSE bisa tampil beda dibandingkan band Rock di zamannya.

9. MUSE - Absolution (2003)

Setelah sukses dengan album keduanya, MUSE kembali lagi dengan album ketiganya yang tak kalah lebih hebat lagi. Namun konsep di album ini berbeda cukup signifikan dibanding album MUSE sebelumnya. Di album ini, mereka lebih mencoba mengangkat tema biblical, namun tetap dikemas dengan musik mereka yang lagi-lagi enerjik dan terkesan multi-genre. Dan berkat album ini, MUSE jadi semakin dikenal lagi dibeberapa benua, semisal Eropa, Amerika, dan Asia.

8. Weezer - Green Album (2001)

Album ini saya rasa adalah album terbaik mereka, setelah Pinkerton dan Make Believe. Album ini merupakan comeback mereka setelah vakum selama 5 tahun, dan hasilnya album ini mampu dikemas secara luar biasa, enerjik, dan dengan suara vokal yang lebih renyah ketimbang Blue Album dan Pinkerton, membuat album ini menjadi salah satu album favorit dari Weezer sepanjang karier mereka.

7. Blur - Think Tank (2003)

Ini adalah salah satu album favorit dari Blur. Meski lagi-lagi, bagi sebagian orang pilihan saya cukup kontroversial, mengingat album ini bagi sebagian besar orang tidak begitu bagus. Namun jarang sekali Blur bisa bereksplorasi seperti yang ada di album ini. Karena bisa memadukan unsur Electronic dengan Rock. Tapi di satu sisi, album ini adalah awal keruntuhan Blur sepanjang karier mereka, bahkan album ini adalah album terakhir Blur sebelum akhirnya memutuskan bubar, namun kemudian bangkit lagi di tahun 2008.

6. Limp Bizkit - Chocolate Starfish and the Hot Dog Flavored Water (2000)

Album ini adalah album kesuksesan besar yang pernah dicetak Limp Bizkit sepanjang karier mereka. 3 awal album Limp Bizkit menurut saya adalah orisinal nya Limp Bizkit. Dan puncak kesuksesannya ada di album ini. Karena hampir semua lagu mereka di album ini mampu dikemas dengan sangat baik, meski banyak di antara lagu mereka di album ini cukup kontroversial. Faktanya bahwa hampir 80% hits tersukses mereka berhasil dicetak lewat album ini, dan salah satu lagu mereka "Take a Look Around" dipilih menjadi soundtrack film "Mission Impossible" seri kedua.

5. Keane - Hopes and Fears (2004)

Kenapa saya memilih album ini ? Bagi saya jarang sebuah band Rock mampu berhasil menciptakan suara yang hebat tanpa memerlukan instrument Guitar. Dan Keane mampu membuktikan bahwa mereka bisa melakukan hal itu. Hanya bermodal suara dari Keyboard dan sebagai gantinya instrument Guitar yang di tanggalkannya, mereka memutuskan mengganti suara Guitar dengan memasukkan sample hampir di seluruh lagu mereka di album ini. Dan ciri khas itulah yang terus mereka bawa sepanjang karier mereka hingga saat ini.

4. Keane - Under the Iron Sea (2006)

Kesuksesan mereka di album Hopes and Fears membuat Keane semakin tertantang untuk membuat album terbaru. Dan di album ini, Keane berhasil bereksplorasi lebih jauh lagi, yaitu dengan suara dari Keyboard yang lebih berat dan lebih terasa seperti nge-Rock. Keberhasilan dari musik mereka pun juga terbawa hingga kesuksesan album ini secara komersil dan berkat album ini pula, Keane bisa dikenal hampir diseluruh dunia.

3. Coldplay - A Rush of Blood to the Head (2002)

Berkat album ini, saya mulai suka dengan Coldplay. Di album ini, Coldplay berhasil mengemas sebuah album yang menarik dan sangat enak untuk di dengar. Dan faktanya, 80% hits tersukses mereka berhasil dicetak lewat album ini. Dan tak perlu saya panjang lebar menjelaskan album ini, penjualannya pun sukses besar dan album ini adalah album Coldplay dengan penjualan tersukses sepanjang karier mereka.

2. Radiohead - Kid A (2000)

Album ini adalah album yang sempat menggemparkan dunia musik di era-nya. Betapa menggemparkannya, karena Radiohead bisa sukses dengan album OK Computer yang dikenal dengan sound Rock yang sangat luar biasa, tiba-tiba saja mereka muncul kembali dengan sentuhan musik yang berbanding balik 180 derajat ketimbang OK Computer yang notabene nya adalah album sebelumnya Kid A. Album ini benar-benar jauh dari kesan Rock & Roll, namun lebih cenderung electronic. Namun hebatnya, Radiohead berhasil mengemas album ini sangat epik dan sama sekali tidak ada hal aneh yang sukar untuk didengar. Dan unsur electronic inilah yang mereka bawa terus hingga kini di album terdepan mereka.

1. Linkin Park - Meteora (2003)

Tak perlu saya jelaskan panjang lebar betapa hebatnya daya tarik dari album ini. Kesuksesan mereka sebenarnya sudah dimulai sejak mereka merilis debut album mereka berjudul Hybrid Theory, yang notabene adalah album sebelum Meteora. Dan album ini sangatlah sukses dengan mencetak angka penjualan terbanyak di seluruh negara, bahkan di Indonesia. Hasilnya, album ini mendapatkan penghargaan bergengsi sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa. Dan daya tarik itu bahkan sampai ke Indonesia, banyak musisi-musisi di Indonesia yang terinspirasi musiknya bisa seperti Linkin Park. Bahkan salah satu band Rap-Rock kondang asal Indonesia, Saint Loco memiliki ciri khas yang hampir mirip seperti Linkin Park, bahkan mendapatkan julukan ''Linkin Park-nya Indonesia''. Dan daya tarik yang luar biasa inilah membuat album ini menjadi salah satu trendsetter baru di era-nya.


Senin, 14 November 2016

New Order

New Order
Ya, ini adalah New Order. Nama yang cukup asing di dengar bagi sebagian orang, karena memang namanya jarang mencuat di musik-musik dunia. Namun jangan anggap remeh band ini, walaupun sudah tua, tapi band ini tetap sangat menarik untuk dilihat.

Wajar saja, karena band ini sebenarnya awal mulanya dari sebuah band Joy Division, sebuah grup band yang sukses di era 70-an. Joy Division boleh dibilang adalah salah satu band yang sangat bersejarah di industri musik dunia karena daya tarik sang vokalis, almarhum Ian Curtis begitu memikat hati. Hasilnya, Joy Division sukses menarik peminat musik yang kala itu di dominasi oleh aliran Heavy Metal ala Led Zeppelin, Black Sabbath, Aerosmith, dan band heavy metal di zamannya.

Namun tahun 1980, Joy Division memutuskan untuk bubar setelah kematian Ian Curtis yang begitu mendadak dan menggemparkan kancah musik di zamannya, karena bunuh diri. Dan sejak saat itulah, Joy Division seolah mati begitu saja dengan hanya mengorbitkan 2 buah album, namun kedua album tersebut sangatlah sukses, bukan hanya di negara asalnya, tapi di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Tak lama setelah itu, berdirilah band ini yang digawangi oleh 3 mantan personel Joy Division, yaitu Bernard Sumner (vokalis, gitaris), Peter Hook (bassist, backing vokal), dan Stephen Morris (drummer). Namun kemudian Stephen Morris mengajak Gillian Gilbert (keyboardist) bergabung di band ini. Dan sejak itulah, band ini resmi diberi nama New Order. Di tahun 1981, New Order langsung meluncurkan album pertama mereka berjudul "Movement". Album ini sudah mencirikan musik New Order akan kemana. Dan musik mereka sangatlah berbeda dengan konsep musik Joy Division yang lebih mengusung genre Post-Punk. New Order lebih mengarah ke musik electro-dance, namun tetap adanya unsur Post-Punk meski tidak 100% murni Post-Punk. Dan album ini pun langsung dengan cepat di terima pasar dan hasilnya sangatlah sukses, mengingat masih banyaknya fans Joy Division mengharapkan akan adanya kebangkitan dari New Order.

Kemudian di tahun 1983, New Order mulai bekerja keras untuk mengeluarkan album kedua mereka. Dan akhirnya, mereka berhasil meluncurkan album kedua mereka dengan diberi judul "Power, Corruption & Lies". Dan musik mereka pun masih mengusung tema yang sama seperti album pertamanya, electro-pop dengan campuran Post-Punk. Dan hasilnya sama seperti album sebelumnya, album ini memiliki respons pasar yang bagus, meski pada tahun itu sudah banyak band-band baru yang mulai bermunculan.

Musik mereka pun semakin mantap di album ketiganya, "Low-Life" yang dirilis di tahun 1985. Usaha keras New Order untuk tetap mempertahankan musik mereka yang berbeda di antara band di zamannya ternyata berhasil. Meski di dominasi oleh musik ala The Smiths yang juga bersinar di zamannya, album ini tetap terhitung sukses dan respons pasar pun tetaplah sangat baik.

Tahun 1986, New Order tetap intensif dengan meluncurkan album keempat mereka berjudul "Brotherhood". Memang di album ini, New Order lebih berusaha keras ketimbang ketiga album sebelumnya, mengingat dominasi musik rock di zamannya sudah semakin tinggi dengan kehadiran band-band rock baru di zamannya. Namun, New Order tetaplah sukses dengan musik yang mereka usung di empat album mereka ini. Respons pasar pun kembali positif akan album ini.

Di tahun 1989, kinerja musikalitas New Order sudah mulai sedikit demi sedikit mengalami penurunan. Dan ini terbukti dengan dirilisnya album kelima mereka berjudul "Technique". Di album ini, New Order mulai menghilangkan ciri Post-Punk di album ini yang sudah melekat di musik mereka di empat album sebelumnya. Namun album ini tetap tergolong sukses, meski respons pasar tidak lagi sebaik sebelum-sebelumnya.

Dan penurunan produktivitas New Order dalam meluncurkan album semakin terlihat di tahun 1993. Ya, memang pada saat itu hampir seluruh personel New Order sudah mulai fokus pada side project mereka masing-masing. Bernard Sumner sudah mulai fokus pada band barunya, Electronic yang merupakan kolaborasi antara Sumner dan mantan gitaris The Smiths, Johnny Marr. Stephen Morris dan Gillian Gilbert yang pada saat itu telah menikah terlihat lebih fokus dengan project duonya, dan menghasilkan dua album studio. Jadi New Order seolah-olah ditinggalkan begitu saja tanpa adanya album baru. Namun itu langsung ditampik dengan para personel New Order dengan diluncurkannya album keenam mereka berjudul "Republic". Single "Regret" menjadi salah satu single legendaris New Order selama berkarier di dunia musik. Respons pasar terhadap album ini tetaplah positif. Pada saat itulah, New Order memutuskan untuk vakum dari dunia musik hingga waktu yang tak ditentukan, namun mereka sempat merilis album kompilasi terbaik mereka di tahun 1994.

New Order tahun 2000
Semangat New Order kembali bangkit lagi di tahun 1999. Memang pada saat itu, Bernard Sumner sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan band Electronic, dan puas dengan 3 album studio saja. Serta duet suami-istri Stephen Morris-Gillian Gilbert pun sudah tidak produktif dalam merilis album duet mereka. Sehingga saat itulah New Order memutuskan untuk bangkit kembali di akhir 1999. Dengan formasi yang masih sama seperti sebelumnya, New Order dengan sigap langsung kembali ke dapur rekaman pada tahun 2000, dan akhirnya dirilislah album ketujuh mereka dengan nama "Get Ready" di tahun 2001 sebagai tanda kebangkitan mereka di kancah musik dunia. Namun di album ini, konsep mereka sangatlah berbeda ketimbang keenam album sebelumnya, di album ini mereka lebih mengarah ke alternative rock, namun tetap nuansa electro-dance di munculkan di album ini meski porsi nya tidak sebanyak sebelum-sebelumnya. Di album ini, New Order berkolaborasi dengan 2 vokalis band kondang di kancah musik, seperti Billy Corgan dari The Smashing Pumpkins dan Bobby Gillespie dari Primal Scream. Kebangkitan mereka membuat respons pasar pun juga ikutan bangkit dengan rilisnya album ini. Single "Crystal" dan "60 Miles an Hour" di album ini menjadi dua lagu New Order yang sangat melekat oleh para fansnya.

Namun keberhasilan album mereka ternyata tak seimbang dengan keberhasilan secara internal band. Album "Get Ready" adalah album terakhir New Order dengan formasi klasik mereka. Di tahun yang sama, Gillian Gilbert memutuskan untuk mengundurkan diri dari band dengan alasan ingin istirahat dari dunia musik. Dan di tahun yang sama pula, masuklah Phil Cunningham menggantikan Gillian Gilbert di posisi keyboardist, namun Phil Cunningham lebih sering menggunakan gitar di panggung, sehingga Phil memegang dua posisi yaitu keyboardist dan gitaris.
New Order tahun 2005
Di tahun 2005, New Order mulai mengejar ketertinggalan mereka dengan dirilisnya album kedelapan berjudul "Waiting for the Sirens' Call". Album ini tetap memiliki konsep yang sama seperti album ketujuh mereka. Dan album ini secara komersil sangatlah sukses, melebihi kesuksesan mereka di ketujuh album sebelumnya. Dan karena album ini, gaung New Order dikancah musik langsung dikenal lebih luas lagi, terutama di benua Eropa dan Asia.

Namun lagi-lagi semangat New Order mengendur di tahun 2007. New Order pada saat itu kembali memutuskan untuk vakum setelah sang bassist, Peter Hook memutuskan untuk mengundurkan diri dari band ini. Dan hal ini memang sudah terlihat sejak beberapa kali konser dan interview New Order, Peter Hook tak pernah terlihat bersama New Order. Yang lebih parah lagi di tahun 2009, Bernard Sumner memberikan statement bahwa dia tidak akan berkarya lagi dibawah bendera New Order.

Namun di tahun 2011, New Order kembali membuat kejutan dengan memutuskan untuk kembali lagi di kancah musik. Namun dengan formasi yang berbeda, dengan kembalinya Gillian Gilbert membangkitkan New Order dalam bermusik, serta posisi Peter Hook diganti oleh Tom Chapman. Di tahun 2013, mereka meluncurkan album kesembilan mereka yang sebenarnya album ini bukanlah album murni dengan materi baru. Album yang diberi judul "Lost Sirens" ini sebenarnya adalah hasil sisa rekaman mereka yang tidak dimasukkan di album multi-platinum mereka, "Waiting for the Sirens' Call".
 
New Order tahun 2015
Dan di tahun 2015, mereka muncul kembali dengan album kesepuluh mereka bernama "Music Complete" yang menjadi album pertama mereka sejak 10 tahun tidak merilis materi baru. Di album ini, New Order berkolaborasi dengan penyanyi-penyanyi kondang, seperti Iggy Pop, Elly Jackson, La Roux, dan Brandon Flowers. Dan kembalinya mereka pun mendapatkan respons positif dari pasar. Dan mereka pun meluncurkan album remix mereka di beri nama "Complete Music" di tahun 2016.

Rabu, 26 Oktober 2016

The Tears - Here Come the Tears


Bagi penggemar fans Suede, pasti sudah tahu akan keberadaan band The Tears. Meski cukup aneh, namun history awal kemunculan band ini sangat menarik untuk dilihat hingga akhirnya bisa mengeluarkan album ini.

Sedikit sejarah mengenai band ini. Band ini dibentuk pada tahun 2004, dimana pada saat itu Suede memang memutuskan untuk vakum. Sebelum band ini terbentuk, awalnya Brett Anderson, sang vokalis kemudian meminta kontak telepon Bernard Butler, sang gitaris kepada manager Suede selepas konser Suede yang terakhir. Mereka berdua dahulunya adalah anggota dari grup musik Suede. Namun pada tahun 1994, Bernard Butler memutuskan untuk keluar dari Suede setelah berseteru dengan Anderson pada saat pengerjaan album "Dog Man Star". Dan sejak saat itulah, Anderson dan Butler tak pernah berkomunikasi sama sekali. Berselang 9 tahun, tepatnya pada tahun 2003, Anderson dan Butler akhirnya berbicara lewat telepon untuk membicarakan sesuatu yang baru.

Kemudian akhirnya mulailah nama The Tears muncul, yang namanya diambil dari kata-kata sebuah novel ciptaan Philip Larkin. The Tears beranggotakan Brett Anderson sebagai vokalis, Bernard Butler sebagai gitaris dan backing vokal, kemudian Bernard Butler mengajak 3 anggota lainnya yang merupakan pengiring band untuk Bernard Butler, yaitu Will Foster sebagai kibordis, Nathan Fisher sebagai bassis, dan Makoto Sakamoto sebagai drummer. Pendek kata, The Tears adalah band kolaborasi antara Anderson dan Butler.

Pada saat album ini muncul, pastilah ekspektasi banyak orang begitu tinggi akan album ini, mengingat kolaborasi antara Anderson dan Butler sangat diagungkan oleh fans semasa mereka berdua di Suede. Dan boleh dibilang, album ini bisa menjadi album yang berpotensi untuk The Tears bisa sukses di masa depan. Karena rata-rata album "Here Come the Tears" ini terasa jauh lebih fresh ketimbang Suede yang mencoba lebih menekankan unsur artistik. Dan memang sejak awal, Anderson menegaskan bahwa The Tears tidak mencoba untuk membangkitkan nuansa Suede, baik album ini maupun pada saat mereka live.

Hasilnya album ini sangatlah sukses, dan hampir seluruh fans Suede sangat menerima keberadaan album ini. Namun kesuksesan mereka sangatlah singkat. Pada tahun 2006, The Tears memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi sebagai band yang utuh alias bubar. Salah satunya dikarenakan Brett Anderson memutuskan untuk fokus di solo kariernya yang memang sudah ia rencanakan pada saat tour untuk promosi album ini. Serta Bernard Butler memutuskan untuk mundur dari dunia panggung musik dan ingin fokus di balik layar sebagai produser. Memang sangat disayangkan karena kemunculan album mereka ini boleh dibilang sangat potensial untuk mereka bisa sukses di masa depan. Pada tahun 2007 sempat berhembus kabar bahwa The Tears akan kembali muncul dengan album kedua mereka. Namun sayangnya itu semua hanyalah sebuah isapan jempol karena semua personel membantahnya.

Itulah sedikit sejarah band ini. Saatnya kita membahas albumnya lebih mendalam. "Here Come the Tears" dirilis pada tanggal 6 Juni 2005. Di album ini, The Tears memasukkan 13 buah lagu. Dan hasilnya janji Brett Anderson memang benar, The Tears mencoba untuk keluar dari karakter Suede yang sudah melekat erat pada Anderson dan Butler. Dan album ini boleh dibilang sebagai transformasi mereka untuk bisa tampil berbeda. Album ini di produseri oleh Bernard Butler, sang gitaris.

Dari 13 buah lagu yang dimasukkan, The Tears memilih 2 lagu sebagai hits single mereka untuk album ini. Pertama yaitu "Refugees". Lagu ini boleh dibilang sangat kental dengan nuansa lagu Bernard Butler selama dirinya berkarier sebagai penyanyi solo. Namun The Tears sangat pintar dalam meracik lagu, dimana mereka tidak memasukkan pure 100% nuansa Bernard Butler di lagu ini. Dan lagu ini terdengar sangat fresh, namun tetap mematok unsur bertemakan cinta sebagai liriknya, sama seperti pendahulunya di Suede. Dan single ini pun sangatlah sukses di chart musik Britania Raya, dan berada di urutan Top 10 selama beberapa minggu.

Kemudian, disusul dengan single "Lovers". Lagu ini memiliki nuansa yang sangat timpang jika dibandingkan dengan "Refugees". Nuansa yang coba ditampilkan di album ini lebih dark, namun tidak ada sama sekali unsur Suede di lagu ini. Lagu ini memang memiliki hasil yang tidak sebaik "Refugees", hanya berada di urutan nomor 24 di chart musik Britania Raya.

Dan 11 lagu lainnya, boleh dibilang juga sangat fresh dan tetap ada unsur dark. Namun itu semua membuat The Tears sangat berinovasi dari segi musikalitas dan liriknya di album ini. Namun ada satu hal yang dirasa kurang begitu menyenangkan untuk di dengar. Yaitu suara yang dihasilkannya cenderung seperi musik mentah yang belum dipoles secara sempurna. Seharusnya, sang produser Bernard Butler bisa lebih baik untuk menyajikan sound yang lebih baik untuk di dengar. Namun itu semua benar - benar tertutup dengan nuansa lagunya yang sangat fresh di album ini.


Daftar Lagu:
1. Refugees
2. Autograph
3. Co-Star
4. Imperfection
5. The Ghost of You
6. Two Creatures
7. Lovers
8. Fallen Idol
9. Brave New Century
10. Beautiful Pain
11. The Asylum
12. Apollo 13
13. A Love As Strong As Death

Jumat, 21 Oktober 2016

5 Album Pop & Rock Terbaik 2016

Tahun 2016 memang tahun penuh kejutan. Bukan hanya musisi-musisi baru saja berusaha untuk memberikan yang terbaik ditahun ini, namun musisi-musisi era jadul pun juga tak mau luput dari hingar bingar musisi baru yang mulai bertebaran.

Meskipun 2016 belum berakhir, namun sudah 10 bulan musik dunia dikacaukan oleh banyaknya album yang keluar di tahun 2016 ini. Dari sederet nama - nama yang ada, akhirnya saya pun memilih 5 album terbaik versi saya. Let's get start it !!

5. Richard Ashcroft - These People


Nomor urutan 5 saya isi oleh album terbaru dari mantan vokalis The Verve, Richard Ashcroft. Tahun 2016, Richard mengeluarkan album "These People" sebagai album kelimanya. Setelah melewati masa vakumnya selama 6 tahun sejak album terakhirnya dirilis ditahun 2010, Richard mencoba bangkit kembali dengan image seperti pendahulunya.

Namun bukan Richard Ashcroft namanya yang semakin kedepan tetap "stuck", di album ini Richard mencoba dengan nuansa barunya yaitu electro-pop. Dan sembari tetap membawa image britpop nya sendiri pendahulu, album ini boleh saya bilang sebagai salah satu album terkompleks yang pernah saya dengar.

Namun, bukan berarti album ini sempurna dan bebas dari cela. Tetap sama seperti album-album sebelumnya, Richard Ashcroft tetap tidak mau membangkitkan nuansa The Verve yang memang sudah melekat kuat dan tidak pernah bisa dilepas olehnya. Serta terkadang suara yang dihasilkan cenderung terlalu mellow dan sulit untuk menemukan suasana semangatnya yang lagi-lagi juga melekat di gaya Ashcroft. Maka dari itu, saya menempatkan album ini diposisi nomor 5.

4. Travis - Everything at Once


Nomor urutan 4 saya isi oleh album terbaru Travis. Tahun 2016, Travis meluncurkan album "Everything at Once". Band yang menjadi inspirasi band Coldplay dalam bermusik ini tetap membawa suasana riang dan gembira seperti layaknya album Travis lainnya.

Tapi entah mengapa ada sesuatu yang hilang di album ini. Dan itu sangat sulit untuk saya temukan, namun yang paling mencolok adalah nuansa megah nya yang hilang dan itu terjadi di album kelima mereka "The Boy With No Name" yang mencoba lebih sederhana. Dan oleh karena itu, saya tempatkan album Travis terbaru ini di nomor 4.

3. Tom Chaplin - The Wave


Nomor urutan 3 saya isi oleh album terbaru vokalis Keane, Tom Chaplin. Meski terhitung cukup baru dirilis, namun sebelum dirilisnya album ini, banyak netizen terutama fans Keane yang sudah menunggu album ini, mengingat Tom Chaplin tidak merilis album satupun selama 3 tahun sejak Keane memutuskan untuk vakum di tahun 2013.

Dan dengan hal itu, pastinya ekspektasi fans Keane untuk album ini begitu tinggi. Pada saat album ini muncul, saya berharap ada nuansa Keane yang kental dialbum ini, tapi saya salah. Album ini justru memunculkan nuansa mellow dari denting piano hampir diseluruh lagunya. Meski tak menampik, tetap ada nuansa fun di album ini. Akan tetapi, hampir 90% di album ini bernuansa mellow, namun kalem. Jadi saya menempatkan album yang paling fresh dari semua yang ada di list pada nomor 3.

2. Radiohead - A Moon Shaped Pool


Nomor urutan 2 saya isi oleh album terbaru Radiohead, "A Moon Shaped Pool". Album ini menjadi penantian fans Radiohead yang sudah menunggu selama 5 tahun sejak terakhir meluncurkan album "The King of Limbs" di tahun 2011.

Memang sudah banyak isu bermunculan bahwa Radiohead akan meluncurkan album terbaru tahun-tahun sebelumnya, namun semua personel Radiohead selalu menampiknya. Namun itu hal yang logis, mengingat semua personel Radiohead sibuk dengan "mainan" mereka. Seperti Thom Yorke sibuk dengan band barunya "Atoms for Peace" dan sibuk dengan solo kariernya serta Jonny Greenwood ingin memperdalam musik orchestra dan sang drummer Phil Selway sibuk dengan solo kariernya juga. Jadi wajar saja, Radiohead tak pernah terurus dalam jangka waktu yang lama.

Namun pada akhir bulan April 2016, netizen dikejutkan dengan Radiohead menghapus semua konten yang ada di sosial media mereka, baik Facebook, Twitter, Instagram, dll. Tidak ada yang terpikir bahwa Radiohead akan memunculkan sesuatu, pada tanggal 3 Mei 2016 mereka merilis video klip single terbaru mereka "Burn the Witch" serta single lagunya di situs streaming musik, dan kemudian pada tanggal 6 Mei dengan single mereka "Daydreaming". Serta yang paling mengejutkan adalah pada 8 Mei merupakan rilisnya album terbaru mereka ini.

Hal ini sedikit mengingatkan saya dimana Radiohead pada saat meluncurkan album "Kid A" di tahun 2000, mereka memutuskan untuk tidak mengeluarkan single apapun. Dan inilah memang istimewanya Radiohead dalam meluncurkan karya terbaru mereka. Selalu ada kejutan dan selalu tidak masuk di akal.

Dan hasil dari album ini pun sebanding lamanya waktu menunggu, Sempurna & Artistik. Nuansa hollow dan artistik ala "Kid A-Amnesiac" lebih kental terasa di album ini. Jadi itulah 2 kata yang mencirikan album jenius ini.

1. Suede - Night Thoughts


Dan akhirnya nomor 1 saya isi dengan album terbaru Suede, "Night Thoughts". Tak perlu saya menjelaskan panjang lebar betapa hebatnya album ini. Album ini sangat membaik dari segala sisi, baik permainan musiknya dan cara mereka menggubah lagu di album ini seakan kita langsung merasakannya. Sehingga ini adalah album Suede terbaik yang pernah dibuat.

Album ini hadir dalam 2 versi, yaitu musik dan dalam bentuk film. Filmnya sendiri juga sangat impresif dan memang menyambung satu sama lain dengan lirik yang ada. Dan itulah mengapa, saya menempatkan album ini di urutan pertama.

Itulah 5 album pop & rock yang menurut saya terbaik sejauh ini di tahun 2016. Dan daftar di atas bisa saja berubah, seiring dengan akan adanya lagi album terbaru yang diluncurkan dalam waktu kedepan di tahun 2016 ini.

Sabtu, 11 Juni 2016

Blur - 13

Blur adalah salah satu band pelopor britpop di era 90-an bahkan hingga saat ini. Banyak karya - karya yang sudah dikeluarkan oleh band satu ini dan selalu mengundang perhatian banyak publik di seluruh dunia.

Dari ketujuh album yang pernah dirilis, ada satu album menurut saya adalah album Blur terjenius dan terhebat yang pernah dibuat. 13, adalah albumnya. Dan album ini adalah album keenam dari Blur dan dirilis tahun 1999. Pertama mendengar nama albumnya memang agak terasa tidak begitu menggugah, namun setelah mendengar seluruh isinya ekspetasi saya langsung berubah. Album ini langsung saya jadikan sebagai album terjenius Blur yang pernah dibuat.

Di album ini, Blur masih kembali dengan sifat garangnya yang memang sudah dibawa sejak album kelima mereka, self titled (Blur) yang dirilis pada tahun 1997. Ketika era itu, memang musik britpop sudah mulai melebur seiring banyaknya genre yang tumbuh di dunia musik. Maka dari itu, Blur memiliki tuntutan yang tinggi untuk bisa "move on" dari genre Britpop nya yang sudah kental sejak mereka memulai kariernya dari album Leisure hingga The Great Escape. Alhasil, jadilah album 13.

Kalau boleh beritahu, dalam wawancara mereka di film No Distance Left to Run yang dirilis tahun 2010, Blur bilang bahwa album ini adalah album perpecahan Blur sepanjang karier mereka. Dan itu memang benar. Sejak putusnya Damon Albarn sang vokalis dari Justine Frischmann (vokalis Elastica), Damon memang sering mengalami konflik dengan Graham Coxon sang gitaris, yang membuat mereka terpecah selama proses pembuatan. Akhirnya konflik ini berbuntut panjang hingga akhirnya tahun 2002, Coxon memutuskan keluar karena merasa muak dengan sikap Damon yang arogan. Di album ini, Blur bekerjasama dengan William Orbit sebagai produser untuk menggantikan Stephen Street yang sudah memproduseri kelima album Blur sebelumnya.

Itu sekilas dari pembuatan album ini. Album ini sebenarnya adalah hasil curahan hati dari Damon Albarn yang sudah putus dari Justine Frischmann pada Agustus 1998. 2 lagu dari album ini adalah lagu curahan hati Damon. Yaitu "Tender" dan "No Distance Left to Run" yang akan saya jelaskan lebih rinci lagi setelah ini. Dan kedua lagu diatas merupakan 2 hits single dari album ini.

Album ini dibuka dengan "Tender". Lagu ini menurut saya adalah lagu Blur yang paling melankolis  yang pernah dibuat. Kalau kebanyakan lagu - lagu Blur di album sebelumnya bernuansa ceria, maka lagu ini penuh dengan suasana sedih dan curahan hati Damon Albarn juga benar - benar ngena banget.

Kemudian dilanjutkan dengan "Bugman". Disinilah sisi kejeniusan Blur dipertunjukan. Dengan genre experimental rock yang kuat serta beberapa efek yang aneh - aneh ditambah pula dengan gitar Coxon yang cadas, membuat lagu ini terasa garang dan mungkin bisa jadi ini adalah lagu Blur tergarang yang pernah dibuat.

Album ini dilanjutkan dengan "Coffee and TV", salah satu hits single juga di album ini. Album ini kembali ke jati diri mereka sebagai band britpop. Lagu ini pun memperkenalkan ciri baru Blur yang jadi ciri Blur yang lain adalah kotak susu dengan gambar Coxon di bagian sisi kanan. Video klip ini memiliki makna kegalauan keluarga Coxon karena Coxon tak pulang - pulang. Akhirnya yang mencari Coxon pun adalah kotak susu itu. Sampai pada akhirnya kotak susu ini menemui Coxon meski harus berjuang keras untuk mencarinya. Namun tragis akhirnya Coxon menimum susu dari kotak susu itu dan menjadi malaikat dibagian akhir video klipnya. Video klip lagu ini menjadi salah satu video klip terhits di ajang MTV Awards tahun 1999. Kemudian lagu ini diakhiri pula dengan satu hidden track berdurasi 40 detik.

Album ini berlanjut dengan lagu "Swamp Song". Pada awalnya saya berpikir kalau Blur mengaransemen lagu ini karena judulnya sendiri mirip dengan "Swamp Song" milik Oasis. Ternyata berbeda sama sekali. Lirik serta aransemen musiknya benar - benar jauh berbeda dari pada milik Oasis. Kekuatan experimental rock ala Radiohead pun kental terasa di lagu ini dan didukung dengan efek yang aneh serta cadasnya gitar Coxon.

Kemudian album ini lanjut dengan "1992". Sebenarnya saya agak bingung kenapa lagu ini diberi judul tersebut. Ternyata, setelah saya membaca banyak sumber di internet, ternyata lagu ini adalah lagu demo milik Albarn yang sudah direkam tahun 1992 dan baru ditemukan demo lagu tersebut 6 tahun kemudian. Lagu nya sendiri bernuansa mellow tak seperti "Bugman" dan "Swamp Song" yang cenderung ingin "Keras". Namun tetap lagu ini memiliki efek yang saya kira tidak akan banyak band yang berani melakukan hal ini.

Album ini kemudian dilanjutkan dengan "B.L.U.R.E.M.I.". Sebenarnya saya juga sama bingungnya mengapa lagu tersebut diberi judul seperti ini. Kali saya tidak mendapat sumber mengapa lagu ini diberi judul tersebut. Nuansa punk rock dibawa ke lagu ini dengan cadasnya gitar Coxon yang membuat lagu ini terasa seperti "Berantakan". Sama seperti "Coffee and TV", lagu ini diakhiri dengan hidden track berdurasi 45 detik.

Lagu selanjutnya adalah "Battle". Lagu ini bernuansa mellow namun dengan beat yang saya rasa hampir mendekati dengan beat "Keras". Gitar Coxon yang cadas pun ditambah dengan efek yang aneh - aneh ini membuat lagu ini adalah salah satu lagu yang saya suka dari album ini. Sama dengan "Coffee and TV" dan "B.L.U.R.E.M.I.", lagu ini diakhiri dengan hidden track berdurasi 1 menit 10 detik.

"Mellow Song" adalah lagu selanjutnya dari album ini. Sama seperti judulnya, lagu ini bernuansa mellow. Di lagu ini juga mereka tidak mau terlalu muluk - muluk untuk bisa seperti lagu lainnya.

"Trailerpark" menjadi lagu selanjutnya. Dimulai dengan drum loop, kemudian ketika masuk lagunya, sama seperti "Mellow Song" lagu ini berusaha untuk tidak garang seperti lagu lainnya.


Kemudian album ini berlanjut dengan lagu "Caramel". Nuansa mellow di awal lagu benar - benar kental terasa dengan alunan gitar yang terasa crunchy membuat lagu ini menjadi salah satu lagu masterpiece Blur di album ini. Kemudian masuk ke bagian tengah dari lagu ini akan terasa bahwa anda akan dibawa ke dimensi yang berbeda. Sama seperti "Coffee and TV", "B.L.U.R.E.M.I." dan "Battle", lagu ini diakhiri dengan hidden track. Namun bedanya, hidden track dari lagu ini ada 2 buah.

Kemudian dilanjutkan dengan "Trimm Trabb", diawali dengan keyboard yang kompleks ala Damon, kemudian masuk lagunya terkesan biasa saja seperti aransemen di lagu lainnya, namun ketika masuk dibagian tengah hingga akhir, lagi-lagi kejeniusan Blur keluar. Mereka tetap ingin memberikan hal "Keras" dilagu ini seperti "Bugman", "Swamp Song" dan "B.L.U.R.E.M.I.".

Album ini berlanjut dengan lagu "No Distance Left to Run". Nuansa melankolis kembali ditunjukkan. Liriknya seperti lagu "Tender", menceritakan tentang curahan hati Damon tentang momen putusnya dari "Justine Frischmann". Lagu ini memadukan antara art rock dengan sedikit genre britpop di lagu ini.

Dan album ini diakhiri dengan lagu instrumen yang sudah menjadi kebiasaan mereka sejak album kedua mereka. Lagu "Optigan 1", dimana Damon memainkan keyboard optigan dengan aransemen seperti lagu klasik era 50-an.



Senin, 25 Mei 2015

10 album Alternative Rock 90-an terbaik sepanjang masa

Era 90-an memang menjadi salah satu era kejayaan emas musik dunia. Ini bisa terjadi karena diera ini banyak band yang muncul dengan genre yang bisa dibilang baru dan tidak biasa.

Namun salah satu genre yang benar - benar sukses di eranya adalah Alternative Rock. Sudah banyak album band alternative rock yang dicetak diera 90-an, namun tentu saja dari semua itu pasti ada yang terbaik. Inilah 10 album alternative rock di era 90-an terbaik sepanjang masa:

10. Suede - Dog Man Star (1994)

 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/0/06/Dog_man_star.jpg

Album ini merupakan album kedua Suede yang dikeluarkan. Suede di album ini berhasil melakukan hal yang bisa dibilang aneh dan tidak biasa, meski tidak ketinggalan dengan trademarknya sebagai band britpop. Namun secara keseluruhan album ini menggabungkan glam rock, orchestra, dan lainnya. Dan bisa dibilang bahwa ini salah satu album alternative rock era 90-an terbaik yang pernah ada.

9. Nirvana - In Utero (1993)


 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/e/e5/In_Utero_(Nirvana)_album_cover.jpg

Mengulang kesuksesan di album keduanya, "Nevermind" Nirvana kali ini mencoba peruntungan yang sama sebagai band grunge di eranya. Dan album ketiga Nirvana ini terbukti bisa melakukan hal itu dengan sangat luar biasa dan mengulang kesuksesan yang sama. Album ini adalah album terakhir Nirvana sepanjang kariernya, karena di tahun 1994, Nirvana memutuskan untuk bubar setelah kematian dari Kurt Cobain, sang vokalis dan gitarisnya.

8. Blur - self titled (1997)

 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/b1/Blur_Blur.jpg

Blur menjadi salah satu pelopor britpop dieranya setelah Pulp. Di tahun 1997, Blur meluncurkan album kelima dengan nama yang sama dengan bandnya. Disini, Blur mencoba untuk sedikit keluar dari jalurnya karena seiring meleburnya britpop ditahun itu. Dan Blur kembali membuktikan bahwa mereka bisa melakukan hal yang menyimpang dari trademark mereka. "Song 2" yang menjadi salah satu single di album ini menjadi lagu Blur yang melegenda hingga saat ini dan sempat dipakai untuk soundtrack FIFA 1998.

7. Blur - 13 (1999)

 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/1/1a/Blur13.jpg

Setelah sukses secara komersil lewat album kelimanya, Blur kembali ingin melakukan hal yang baru dengan album "13". Album ini secara total keluar dari trademark mereka sebagai band britpop. Dengan genre experimental yang terbilang kental di album ini dan lirik yang penuh dengan curahan hati menjadikan album "13" sebagai album terjenius dan mengharukan yang pernah dibuat oleh Blur. Namun tersiar kabar bahwa album "13" adalah album yang memisahkan mereka secara personal yang berujung Graham Coxon ditahun 2002 memutuskan untuk keluar karena adanya konflik dengan personel lainnya.

6. Green Day - Dookie (1994)

 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/4/4b/Green_Day_-_Dookie_cover.jpg

Green Day hingga saat ini terkenal dengan aliran alternative punk nya. Dookie menjadi salah satu masterpiece Green Day yang pernah dibuat. Sebagai pelopor alternative punk di eranya, membuat Green Day disanjungi banyak orang. Aransemen nya yang terbilang tidak begitu menjlimet membuat album ini sukses secara komersil dan langsung cepat diterima oleh kalangan pendengar.

5. Blur - Parklife (1994)










http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/7d/BlurParklife.jpg

Blur kembali lagi dengan album ketiganya. Dan bisa dibilang Blur dialbum ini benar - benar
 bertransformasi dari dua album sebelumnya yang cenderung gitarnya penuh dengan distorsi keras. Album ini cenderung lebih halus dan lebih fun untuk didengar. Maka tak heran album ini menjadi album Blur yang sukses secara komersil. Dan kesuksesan album ini berlanjut ke "The Great Escape" yang juga mengulangi kesuksesannya secara komersil.

4. Oasis - Definitely Maybe (1994)

 http://nme.assets.ipccdn.co.uk/images/gallery/1994oasisdefinitelymaybe600.jpg

Oasis memulai karier mereka dengan album ini. Album ini bisa dibilang menjadi salah satu album Oasis terbaik di era 90-an. Dengan aransemen britpop yang bercampur dengan alternative rock membuat musiknya terdengar keras dan terkesan cadas. Definitely Maybe mendapatkan respon positif dari para pendengarnya dan kritikus musik.

3. Radiohead - OK Computer (1997)

 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/a/a1/Radiohead.okcomputer.albumart.jpg

Radiohead diera nya dikenal sebagai band yang berani melakukan hal yang berbeda. Dan mereka berhasil membuktikannya di album ini. OK Computer berhasil menggabungkan beberapa esensi tertentu yaitu alternative rock dan sedikit electro dan experimental yang membuat album ini terasa greget dan sangar. Maka tak heran album ini menjadi pembahasan banyak kalangan bukan hanya orang - orang biasa namun para kritikus musik memuji album ini.

2. Nirvana - Nevermind (1991)

 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/b7/NirvanaNevermindalbumcover.jpg

Menjadi band pelopor grunge dieranya membuat Nirvana semakin tertantang diera itu untuk menyajikan hal yang berbeda. Kegagalan album pertama mereka "Bleach" membuat mereka harus berpikir untuk memperkenal grunge di momen yang tepat. Dan Nirvana memilih momen itu di awal era 90-an, dan Nirvana berhasil dengan strategi itu. Dan single "Smells Like Teen Spirit" menjadi lagu Nirvana yang melegenda sepanjang kariernya.

1. Oasis - (What's the Story) Morning Glory? (1995)

 http://cps-static.rovicorp.com/3/JPG_400/MI0001/567/MI0001567975.jpg?partner=allrovi.com

Oasis kembali melanjutkan kesuksesan mereka di album pertama dengan merilis album kedua ini. Album kedua ini bisa dibilang menjadi album Oasis yang tersukses dan terbaik sepanjang sejarah. Karena mereka mengaransemen lagunya tidak terlalu cadas dan kalangan pendengar langsung bisa menerima album ini dengan baik ketimbang album pertama yang terkesan "keras".

Sabtu, 23 Mei 2015

Blur

Siapakah rival nya dari Oasis ? Banyak ! Salah satunya Blur. Perlawanan sengit mereka sangat terasa di era 90-an dengan saling balas membalas satu dengan lainnya, meski pada akhirnya duo frontman Oasis dan Blur belakangan ini memutuskan untuk berdamai.

 
Blur di era 90-an
Blur sendiri adalah salah satu band pencetus britpop dieranya. Dibentuk pada tahun 1988 dengan nama Seymour, mereka memulai perjalanan mereka dengan bermain di kafe - kafe. Perjalanan terbesar mereka adalah disaat mereka memberikan demo mereka di tahun 1989 di label rekaman, Food. Dan disitulah perjalanan sesungguhnya telah dimulai, dengan formasi 4 orang yaitu Damon Albarn sebagai vokalis, Graham Coxon sebagai gitaris dan backing vokal, Alex James sebagai bassis, dan Dave Rowntree sebagai drummer dan formasi ini solid hingga sekarang. Dan akhirnya pihak Food menerima dan mau memberi kontrak pada mereka. Dan mereka memutuskan untuk mengganti namanya dengan Blur.

Di tahun 1990, Blur merilis single "She's So High" yang memulai perjalanan mereka di industri musik. Kesan shoegaze disini terasa sekali dan kesan ini kemudian berlanjut hingga album pertama mereka, "Leisure" yang dirilis setahun kemudian. Album ini terasa penuh dengan distorsi - distorsi yang cukup keras. Dan bisa dibilang Leisure adalah album Blur dengan aransemen tercadas yang pernah dibuat. Dalam segi penjualan, album ini dapat diterima dengan positif oleh penggemar musik dieranya.

Blur kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan munculnya album kedua mereka, "Modern Life is Rubbish" yang dirilis pada tahun 1993, meski sebelumnya mereka merilis single "Popscene". Di album kedua mereka, Blur coba untuk bertransformasi dari album mereka sebelumnya yang cenderung "keras". Dan album ini berhasil melakukan hal itu. Blur di album ini lebih dikenal banyak orang ketimbang album pertamanya dan nuansa Britpop nya lebih terasa. Namun sayang, meskipun lebih terkenal dari sebelumnya tapi dalam segi penjualan album ini kalah dari album pertamanya.

Tahun 1994, Blur kembali membuat kejutan dengan dirilisnya album ketiganya, "Parklife". Album ini coba untuk mengulang kesuksesan mereka dari album sebelumnya. Dan album ini berhasil melakukan hal yang serupa, bahkan ini adalah salah satu album tersukses Blur sepanjang sejarah. Nuansa britpop mereka lebih terasa di album ini ketimbang sebelumnya yang kadang cenderung ingin lebih banyak distorsi dibagian gitar.

Kesuksesan besar mereka berlanjut hingga tahun 1995 disaat mereka mengeluarkan album keempatnya, "The Great Escape". Sudah menjadi trademark sejak album sebelumnya, Blur kembali mencoba untuk mengulang kesuksesannya dengan mengusung musik Britpop. Dan album ini kembali berhasil melakukan hal itu. Namun ditahun yang sama pula band rival mereka, Oasis juga mengeluarkan album terbarunya. Dan disinilah persaingan mereka di era 90-an mulai. Mereka pun saling menyerang satu sama lain.

Seiring mulai meleburnya Britpop di dunia musik, Blur semakin tertantang untuk membuat album dengan keluar dari trademark mereka sebagai Britpop. Dan Blur coba memberikan hal itu dengan album kelimanya mereka yang diberi judul sama dengan nama band nya dirilis tahun 1997. Coxon disini pun berubah dalam segi aransemen dan cara permainannya yang cenderung mirip dengan band indie rock Amerika di zamannya. Dan Blur berhasil membuktikan bahwa mereka bisa melakukan hal lebih dari sebelumnya, meski masih ada sedikit unsur Britpopnya namun secara overall mereka berhasil keluar dari bayang - bayang mereka sebagai band Britpop.

Tahun 1998, mereka merilis versi remix dari album kelimanya dengan nama "Bustin' + Dronin'". Di salah satu remix mereka, ada William Orbit yang meremix salah satu lagu mereka dari album kelimanya. Dan William Orbit inilah yang menjadi produser terbaru mereka menggantikan Stephen Street yang sudah menjadi produser di lima album mereka.

Tahun 1999, menjadi pembuktian baru mereka bahwa mereka bisa melakukan hal yang lebih. Dan Blur berhasil membuktikan hal itu di album keenam mereka, "13". Blur di album ini secara total keluar dari trademark mereka, bukan hanya aransemen saja namun juga berdampak pada liriknya. Lirik nya penuh dengan nuansa curahan hati Damon Albarn, sang vokalis yang pada saat itu telah putus dari Justine Frischmann, vokalis Elastica di tahun 1998. Dan album ini yang benar - benar saya favoritkan, karena album ini adalah album Blur yang paling berani untuk keluar dari jalur mereka. Namun sayang, tersiar kabar bahwa album ini adalah album pemisah mereka secara personal. Dan ini juga berdampak hingga tahun 2002, ditengah rekaman album ketujuh mereka Coxon memutuskan keluar dari Blur akibat konflik dengan Damon Albarn.

Tahun 2000, mereka mengeluarkan "The Best of" sebagai kompilasi karya terbaik mereka. Tahun 2002, mereka mengeluarkan single "Don't Bomb When You're the Bomb" sayang single ini tidak seperti sebelumnya yang cenderung berhasil.

Blur pada tahun 2003 (setelah Coxon keluar)
Tahun 2003, pembuktian mereka berlanjut dengan merilisnya album ketujuh mereka "Think Tank". Setelah Coxon keluar dari formasi, Blur semakin tertantang lagi untuk membuat konsep yang baru. Dan ternyata konsep itu hampir sama persis dengan album Kid A dari Radiohead dengan meminimalisasi penggunaan sound gitar di album nya. Dan Blur berhasil membuktikan bahwa mereka masih bisa membuat hal yang lebih meskipun tanpa bantuan Coxon. Coxon sendiri masih menjadi gitaris meski hanya satu lagu saja. Dan setelah album ini keluar, semua personil Blur perlahan namun pasti sudah mulai sibuk dengan mainannya sendiri. Damon dengan band virtualnya Gorillaz yang sudah dibentuk sejak 1998 dan telah merilis album perdananya pada waktu itu, Dave juga sibuk dengan memproduseri beberapa album, serta Alex James sibuk dengan pabrik kejunya dan menjadi additional bass bagi musisi tertentu. Hal ini membuat Blur memutuskan untuk vakum sejenak hingga batas waktu yang tak ditentukan.

Hingga akhirnya tahun 2008, Blur memutuskan untuk kembali di dunia musik. Kembalinya Coxon di formasi, membuat Blur semakin hebat dari album ketujuh mereka. Dan kembalinya Blur sempat menjadi spekulasi bahwa Coxon dan Damon Albarn telah berdamai. Tahun 2010, mereka merilis video dokumentasi mereka "No Distance Left to Run" yang berisi perjalanan karier mereka di dunia musik.

Tahun 2012, Blur kembali dengan single lagu "Under the Westway" yang menjadi penantian para fans Blur sepanjang 4 tahun setelah mereka bersatu kembali. Dan single ini mendapat respon positif dari penggemar dan kritikus musik. Di tahun yang sama mereka merilis video konser "Parklive" yang merupakan konser mereka di Hyde Park, London. Setelah merilis video konser ini, sempat tersiar kabar lagi bahwa Blur akan bubar. Namun sang vokalis, Damon Albarn langsung menyanggah hal itu.

Blur di tahun 2014
Tahun 2015, Blur kembali dengan album kedelapannya "The Magic Whip". Ini adalah merupakan album penantian para penggemarnya setelah hampir 12 tahun tidak merilis album terbaru mereka sejak "Think Tank" dirilis. Kembalinya Coxon di formasi pada album terbarunya membuat Blur semakin kuat dalam hal aransemennya. Di album ini, Blur mencoba membawa nuansa retro mereka dalam hal aransemen, dan beberapa lagu mereka memiliki aransemen yang hampir sama dengan album keenam mereka, "13". Satu hal yang unik dari album ini adalah mereka merekam hampir semua lagunya di Hongkong. Dan album ini tak luput dari kesuksesannya, menjadi band penantian semua orang membuat album ini terdongkrak banyak. Namun pada awalnya banyak yang mengira bahwa pemberitahuan album ini akan menjadi sebuah isapan jempol. Karena beberapa kali diberitakan akan keluar album baru, Blur selalu membantahnya.